“ HUKUM MENDEL I ”
Oleh :
NAMA : TRIA ARDI
PUSPA LAGA
NPM : E1J011035
HARI/JAM : KAMIS/12.00-14.00 WIB
KELOMPOK : 5
LABORATORIUM AGRONOMI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2012
I. PENDAHULUAN
1.1
Dasar Teori
Genetika sebagai ilmu yang mempelajari segala hal yang mengenai keturunan
dimulai sejak purbakala, ketika para petani mengetahui bahwa hasil pertaniannya
dan ternaknya dapat ditingkatkan melalui persilangan. Meskipun pengetahuan
mereka masih sangat primitif namun mereka menyadari bahwa beberapa sifat yang
baik pada tumbuhan dan hewan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Mereka menjalankan berbagai persilangan tanpa disadari pengetahuan
karena belum di kenal adanya gen, apalagi hukum-hukum keturunan. (Suryo, 1990).
Genetika yang sesungguhnya baru dimulai pada decade kedua dari abad ke-19
setelah mendel menyajikan secara hati-hati hasil analisis beberapa percobaan
persilangan yang dibuatnya pada tamanan ercis/kapri (Pisum sativum). (Suryo, 1990).
Johann Mendel lahir tanggal 22
Juli 1822 di kota kecil Heinzendorf di Silesia, Austria. (Sekarang kota itu
bernama Hranice wilayah Republik Ceko.) Johann memunyai dua saudara perempuan.
Ayahnya adalah seorang petani. Minatnya dalam bidang hortikultura ternyata dimulai
sejak dia masih kecil. (Paskah,2010).
Hukum mendel I dikenal juga sebagai hukum segregasi. Selama proses
meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan
tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel
gamet. Proses pemisahan gen secara bebas itu dikenal sebagai segregasi gen.
Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung satu gen dari alelnya. Pada
waktu fertilisasi, sperma yang jumlahnya banyak bersatu secara acak dengan ovum
untuk membentuk individu baru. (Syamsuri, 2004).
Eksperimen Mendel dimulai saat dia berada di biara Brunn
didorong oleh keingintahuannya tentang suatu ciri tumbuhan diturunkan dari
induk keturunannya. Jika misteri ini dapat dipecahkan, petani dapat menanam
hibrida dengan hasil yang lebih besar. Prosedur Mendel merupakan langkah yang
cemerlang dibanding prosedur yang dilakukan waktu itu. Mendel sangat
memperhitungkan aspek keturunan dan keturunan tersebut diteliti sebagai satu
kelompok, bukan sejumlah keturunan yang istimewa. Dia juga memisahkan berbagai
macam ciri dan meneliti satu jenis ciri saja pada waktu tertentu; tidak
memusatkan perhatian pada tumbuhan sebagai keseluruhan. Dalam eksperimennya,
Mendel memilih tumbuhan biasa, kacang polong, sedangkan para peneliti lain
umumnya lebih suka meneliti tumbuhan langka. Dia mengidentifikasi tujuh ciri
berbeda yang kemudian dia teliti:
- bentuk benih (bundar atau keriput),
- warna benih (kuning atau hijau),
- warna selaput luar (berwarna atau putih),
- bentuk kulit biji yang matang (licin atau bertulang),
- warna kulit biji yang belum matang (hijau atau kuning),
- letak bunga (tersebar atau hanya di ujung), dan
- panjang batang tumbuhan (tinggi atau pendek). (Paskah, 2010)
Mendel melakukan percobaan selama
12 tahun. Dia menyilangkan (mengawin silang) sejenis buncis dengan memerhatikan
satu sifat beda yang menyolok. Misalnya, buncis berbiji bulat disilangkan
dengan buncis berbiji keriput, buncis dengan biji warna kuning disilangkan
dengan biji warna hijau, buncis berbunga merah dengan bunga putih, dan
seterusnya. (Fandri, 2009).
Mendel juga mengemukakan bahwa pada saat pembentukan gamet (sel kelamin)
terjadi pemisahan bebas dari sifat/gen yang dikandung oleh induknya. Artinya
setiap gamet akan akan mendapatkan gen yang telah memisah secara acak. Misalnya
induk Bb akan menghasilkan gamet B dan b. prinsip tersebut dikenal sebagai
prinsip segregasi bebas. Sedangkan induk BbPp (biji bulat, batang panjang) akan
menghasilkan gamet BP, Bp, bP, bp. Prinsip ini disebut prinsip kombinasi secara
bebas. (Syamsuri, 2004).
Individu yang mengandung notasi domonan-dominan atau dominan-resesif akan
menampakkan fenotipe dominan. Hanya individu yang mengandung notasi
resesif-resesif yang menampakkan fenotipe resesif. Jadi, genotype BB dan Bb
menampakkan penotipe bulat, sedangkan genotype bb akan menampakan fenotipe
keriput.
Mendel menarik beberapa kesimpulan dari hasil penelitiannya. Dia menyatakan
bahwa setiap ciri dikendalikan oleh dua macam informasi, satu dari sel jantan
(tepung sari) dan satu dari sel betina (indung telur di dalam bunga). Kedua
informasi ini (kelak disebut plasma pembawa sifat keturunan atau gen)
menentukan ciri-ciri yang akan muncul pada keturunan. (Paskah, 2010).
1.2
Tujuan Praktikum
Praktikum ini
bertujuan untuk:
Ø Mencari angka-angka
perbandingan sesuai dengan hukum mendel
Ø Menemukan nisbah
teoritis sama atau mendekati nisbah pengamatan
Ø Memahami pengertian
dominan, resesif, genotype, fenotipe
II. BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM
2.1
Bahan dan Alat
Praktikum
Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah:
§ Model gen (kancing
genetik) 2 warna
§ Dua buah stoples
2.2
Cara Kerja
Adapun cara kerja dalam praktikum ini adalah:
· Ambillah model gen
merah dan putih, masing 30 pasang atau 60 biji (30 jantan dan 30 betina)
· Sisihkan 1 pasang
model gen merah dan gen putih dalam keadaan berpasangan. Ini dimisalkan
individu merah dan individu putih.
· Bukalah pasangan
gen di atas (langkah 2), ini misalkan pemisahan gen pada pembentukan gamet,
baik oleh individu merah atau individu putih.
· Gabungkan model gen
jantan merah dan model gen betina putih dan sebaliknya. Ini menggambarkan hasil
persilangan atau F1, keturunan individu merah dan individu putih.
· Pisahkan kembali
model gen merah dan model gen putih. Hal ini menggambarkan pemisahan gen pada
pembentukan gamet F1.
· Selanjutnya semua
model gen jantan baik merah maupun putihmasukkan ke dalam stoples jantan dan
model gen betina baik merah maupun putih masukkan ke dalam stoples betina.
· Dengan tanpa
melihat dan sambil mengaduk/mencampur gen-gen tersebut ambillah secara acak
sebuah gen dari masing-masing stoples, kemudian pasangkan.
· Lakukan secara
terus-menerus pengambilan model gen sampai habis dan catat setiap pasangan gen
yang terambil kedalam tabel pencatatan.
· Bias juga dengan
mengembalikan model gen yang terambil (langkah 8) kedalam stoples masing-masing
untuk selanjutnya mendapat kesempatan terambil lagi. Lakukan percobaan serupa
untuk pengambilan 20 x, 40 x, dan 60 x.
III. HASIL
Tabel 1. Pencatatan untuk
pengambilan 20 x.
|
No
|
Pasangan
|
Tabulasi ijiran
|
Jumlah
|
|
1
|
Merah-merah
|
IIIIIII
|
7
|
|
2
|
Merah-putih
|
IIIIIIIII
|
9
|
|
3
|
Putih-putih
|
IIII
|
4
|
Tabel 2. Pencatatan
untuk pengambilan 40 x.
|
No
|
Pasangan
|
Tabulasi ijiran
|
Jumlah
|
|
1
|
Merah-merah
|
IIIIIIIIIIIII
|
13
|
|
2
|
Merah-putih
|
IIIIIIIIIIIIIII
|
15
|
|
3
|
Putih-putih
|
IIIIIIIIIII
|
12
|
Tabel 3. Pencatatan
untuk pengambilan 60 x.
|
No
|
Pasangan
|
Tabulasi ijiran
|
Jumlah
|
|
1
|
Merah-merah
|
IIIIIIIIIIIIIIIIII
|
18
|
|
2
|
Merah-putih
|
IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
|
26
|
|
3
|
Putih-putih
|
IIIIIIIIIIIIIIII
|
16
|
Tabel 4. Perbandingan/nisbah fenotipe pengamatan/obsevasi
(O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 20 x.
|
fenotipe
|
Pengamatan (Observasi=O)
|
Harapan (Expected)
|
Deviasi
(O-E)
|
|
Merah
|
16
|
15
|
1
|
|
Putih
|
4
|
5
|
-1
|
|
Total
|
20
|
20
|
0
|
Tabel 5.
Perbandingan/nisbah fenotipe pengamatan/obsevasi (O) dan nisbah
harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 40 x.
|
fenotipe
|
Pengamatan (Observasi=O)
|
Harapan (Expected)
|
Deviasi
(O-E)
|
|
Merah
|
28
|
30
|
-2
|
|
Putih
|
12
|
10
|
2
|
|
Total
|
40
|
40
|
0
|
Tabel 6. Perbandingan/nisbah fenotipe pengamatan/obsevasi
(O) dan nisbah harapan/teoritis/expected (E) untuk pengambilan 60 x.
|
fenotipe
|
Pengamatan (Observasi=O)
|
Harapan (Expected)
|
Deviasi
(O-E)
|
|
Merah
|
44
|
45
|
-1
|
|
Putih
|
16
|
15
|
1
|
|
Total
|
60
|
60
|
0
|
IV.
PEMBAHASAN
Dalam percobaan hukum Mendel I, dilakukan persilangan monohibrid yaitu
warna biji. Warna biji merah (MM) bersifat dominan yang disimbolkan dengan
kancing genetic warna merah, dan warna biji putih (mm) bersifat resesif
disimbolkan dengan kancing genetic warna putih.
Persilangan antara kancing merah (MM) dengan kancing putih (mm) diperoleh
F1 yang berwarna marah (Mm). Karena kancing merah bersifat dominant. Jika F1
disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh tiga macam fenotipe yaitu
merah-merah, merah-putih, dan putih-putih. Dengan genotif untuk merah (MM),
merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm). Menurut hukum Mendel I, perbandingan
fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1.
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 20x diperoleh
data, yaitu untuk warna merah-merah sebanyak 5 kali, warna merah-putih sebanyak
9 kali, dan warna putih-putih sebanyak 6 kali. Sehingga diperoleh perbandingan
5:9:6 yang mendekati angka ratio 1:2:1. Dengan deviasi -1 untuk merah, 1 untuk
putih. Deviasi menyatakan besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap
besarnya harapan.
Untuk pengambilan 40x diperoleh data, yaitu untuk warna merah-merah
sebanyak 12 kali, warna merah-putih sebanyak 18 kali, dan warna putih-putih
sebanyak 10 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 12:18:10 yang mendekati angka
ratio 1:2:1. Dengan deviasi 0 untuk merah, dan 0 untuk putih.
Untuk pengambilan 60x diperoleh data, yaitu untuk warna merah-merah
sebanyak 17 kali, warna merah-putih sebanyak 29 kali, dan warna putih-putih
sebanyak 14 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 17:29:14 yang mendekati angka
ratio 1:2:1. Dengan deviasi 1 untuk merah,dan -1 untuk putih.
Kalau nilai deviasi mendekati angka 1 maka data yang diharap makin bagus,
dan pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki mendekati sempurna.
Tapi kalau perbangdingan o/e makin menjauhi angka 1, data itu buruk, dan
pernyataan fenotif tentang karakter yang diselidiki berarti dipengaruhi oleh
faktor lain.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, didapat perbandingan fenotif yaitu1:2:1 (1MM:2Mm:1mm). Kancing bergenotif MM dan Mm katanya berfenotif sama, yaitu merah. Karakter m untuk putih karena resesif, ditutupi oleh M yang menumbuhkan karakter merah. Jadi karakter merah dominant. Dengan demikian terbukti bahwa untuk persilangan monohibrid diperoleh perbandingan fenotipe 3:1.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, didapat perbandingan fenotif yaitu1:2:1 (1MM:2Mm:1mm). Kancing bergenotif MM dan Mm katanya berfenotif sama, yaitu merah. Karakter m untuk putih karena resesif, ditutupi oleh M yang menumbuhkan karakter merah. Jadi karakter merah dominant. Dengan demikian terbukti bahwa untuk persilangan monohibrid diperoleh perbandingan fenotipe 3:1.
P : MM x mm
(merah) (putih)
(merah) (putih)
Gamet : M m
F1 : Mm
(merah)
(merah)
F1 x F1: Mm x Mm
Gamet : M, m M, m
F2 : MM Mm Mm mm
(merah) (merah) (merah) (putih)
(merah) (merah) (merah) (putih)
V.
KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang kami
lakukan dapat kami simpulkan bahwa:
v Deviasi menyatakan
besarnya penyimpangan hasil pengamatan terhadap besarnya harapan. Deviasi
mendekati angka 1 maka data yang diharap makin bagus, dan pernyataan fenotif
tentang karakter yang diselidiki mendekati sempurna.
v Pada F1
menghasilkan semuanya merah. Sedangkan pada F2, persilangan antara F1xF1 maka
diperoleh tiga macam fenotipe yaitu merah-merah, merah-putih, dan putih-putih.
Dengan genotif untuk merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm). dengan
perdandingan fenotif 1:2:1.
v Perbandingan fenotipe
untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.
Jawaban Pertanyaan
1.
Berapa macam
pasangan genotif yang anda peroleh?
Jawaban:
Ada tiga macam, yaitu merah-merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm)
Ada tiga macam, yaitu merah-merah (MM), merah-putih (Mm), dan putih-putih (mm)
2.
Berapa perbandingannya?
1 : 2 : 1
Yaitu 1 MM : 2 Mm : 1 mm
3.
Jika model gen
merah dominan, berapa perbandingan fenotif yang anda peroleh?
Jawaban:
3 dominan (MM atau Mm) : 1 resesif (mm) atau3 merah : 1 putih
3 dominan (MM atau Mm) : 1 resesif (mm) atau3 merah : 1 putih
4.
Apa yang dapat Anda simpulkan dari percobaan
Model ini?
Jawaban:
Percobaan ini menghasilkan genotif yaitu merah-merah, merah-putih dan putih-putih. Dan perbandingan fenotifnya yaitu MM, Mm, mm (1:2:1) untuk F2. sedangkan pada F1 menghasilkan semuanya merah. Dapat disimpulkan bahwa gen merah dominant, dan gen putih resesif. Perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.
Percobaan ini menghasilkan genotif yaitu merah-merah, merah-putih dan putih-putih. Dan perbandingan fenotifnya yaitu MM, Mm, mm (1:2:1) untuk F2. sedangkan pada F1 menghasilkan semuanya merah. Dapat disimpulkan bahwa gen merah dominant, dan gen putih resesif. Perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1. Karena gen merah dominant.
DAFTAR PUSTAKA
Fandri. 2009. Hukum
Mendel I. http://samudra-fox.blogspot.com/2009/05/hukum-mendel-1.html. 19 maret 2011
Syamsuri, istamar dkk. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga
Suryo. 1990. Genetika. Jakarat: Erlangga
Suryati, Dotti. 2011. Penuntun
Pratikum Genetika Dasar. Bengkulu: Lab. Agronomi Universitas Bengkulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar